Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 03 Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jawa Timur memperkenalkan sebuah alat bantu penabur pupuk manual bernama TAPURGO, singkatan dari Tabur Pupuk Ergonomis, kepada warga Desa Sidomukti, Kecamatan Kembangbahu, Kabupaten Lamongan. Inovasi ini merupakan bagian dari program Kuliah Kerja Nyata Proyek Kemanusiaan 2026 yang berbasis pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) nomor 1 mengenai penanggulangan kemiskinan dan nomor 8 mengenai pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi.
Alat ini lahir dari hasil pengamatan langsung tim mahasiswa terhadap kebiasaan bertani warga setempat. Selama ini, proses penaburan pupuk di lahan pertanian Desa Sidomukti masih dilakukan secara manual menggunakan tangan sambil membungkuk di sepanjang lahan. Cara tersebut dinilai kurang efisien karena membutuhkan waktu dan tenaga yang besar, berisiko menimbulkan kelelahan serta nyeri punggung, dan cenderung menghasilkan sebaran pupuk yang tidak merata.
TAPURGO dirancang menjawab persoalan tersebut melalui tiga keunggulan utama. Pertama, struktur tabung teleskopis yang panjangnya dapat disesuaikan dengan tinggi badan pengguna sehingga petani dapat menabur pupuk sambil berdiri tegak tanpa perlu membungkuk. Kedua, jendela indikator transparan berskala pada tabung penampung yang memungkinkan petani memantau volume pupuk secara visual selama proses penaburan. Ketiga, mekanisme katup pegas pada ujung nozzle yang mengatur debit keluaran pupuk agar sebarannya lebih terkontrol dan merata. Alat ini bekerja sepenuhnya berdasarkan prinsip gravitasi dan mekanisme katup manual, sehingga tidak memerlukan sumber daya listrik maupun bahan bakar.
Dari sisi material, TAPURGO dibuat dari bahan yang sederhana, ekonomis, dan mudah diperoleh di lingkungan sekitar, yaitu pipa PVC atau paralon, fiber plastik transparan, serta pegas besi. Pemilihan bahan ini memungkinkan alat diproduksi ulang secara mandiri oleh masyarakat desa dengan biaya terjangkau, sekaligus membuka peluang pengembangan usaha lokal berbasis teknologi tepat guna.

Perwakilan mahasiswa KKN Kelompok 03 memperagakan cara kerja TAPURGO di hadapan perangkat dan warga Desa Sidomukti.
Peragaan dan uji coba TAPURGO dilakukan langsung di lahan pertanian Desa Sidomukti dan mendapat sambutan positif dari warga maupun perangkat desa yang hadir. Dalam kesempatan tersebut, sejumlah tokoh masyarakat turut mencoba langsung penggunaan alat, mulai dari kepala dusun, ketua kelompok tani, hingga warga lanjut usia yang menjadi salah satu petani di desa tersebut.

Salah satu petani senior Desa Sidomukti mencoba langsung TAPURGO di lahan pertanian setempat.
Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Sidomukti menyampaikan apresiasi atas kehadiran inovasi tersebut. “Alat ini sangat membantu kami, apalagi bagi petani yang sudah berumur. Biasanya kalau nabur pupuk harus membungkuk lama, sekarang bisa sambil berdiri dan pupuknya juga lebih rata. Kami berharap alat seperti ini bisa terus dikembangkan dan diperbanyak supaya bisa dipakai lebih banyak petani di desa,” ujarnya.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Kelompok KKN 03 Desa Sidomukti UPN “Veteran” Jawa Timur menjelaskan bahwa TAPURGO merupakan hasil observasi lapangan yang disusun bersama seluruh anggota kelompok selama masa penugasan. “Kami ingin menghadirkan solusi yang benar-benar dibutuhkan warga, bukan sekadar formalitas program. TAPURGO ini kami rancang dari bahan-bahan sederhana agar mudah ditiru dan diproduksi ulang oleh warga sendiri. Ke depan, kami juga mengajukan alat ini untuk mendapatkan perlindungan Hak Kekayaan Intelektual agar inovasinya semakin diakui dan bisa dikembangkan lebih lanjut,” ungkapnya.

Mahasiswa KKN Kelompok 03 bersama warga dan perangkat Desa Sidomukti berfoto bersama dalam kegiatan peluncuran TAPURGO, bagian dari Program Kuliah Kerja Nyata Proyek Kemanusiaan 2026 berbasis SDGs 1 dan SDGs 8.
Program ini merupakan bagian dari upaya mahasiswa KKN dalam mendukung peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani melalui pendekatan teknologi tepat guna yang murah, mudah diaplikasikan, dan ramah lingkungan. Ke depan, tim pengusul berharap TAPURGO dapat terus disempurnakan dan diproduksi secara lebih luas, sehingga manfaatnya dapat dirasakan tidak hanya oleh warga Desa Sidomukti, tetapi juga oleh petani di wilayah lain yang menghadapi persoalan serupa.




