Mengangkat Potensi Lokal, Dua UMKM Desa Puter Perluas Jangkauan Melalui Digitalisasi
LAMONGAN - Desa Puter yang terletak di Kecamatan Kembangbahu, Kabupaten Lamongan ini memiliki dua UMKM yang menjadi penopang ekonomi masyarakat sekaligus cerminan pelestarian usaha keluarga. Dua usaha tersebut adalah usaha kue basah milik Bu Tutik dan usaha kerajinan rebana milik Pak Agus, yang keduanya telah bertahan selama puluhan tahun berkat kualitas yang konsisten dan keterampilan yang diwariskan turun-temurun. Keberadaan kedua UMKM ini menunjukkan bahwa usaha skala rumahan tidak hanya menjadi sumber penghasilan masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari identitas ekonomi di Desa Puter.
Usaha kue yang dimiliki oleh Bu Tutik telah berdiri selama kurang lebih 20 tahun dan saat ini dikelola bersama ibunya, Bu Tira, serta rekannya, Mba Ita. “Yang membuat produk ini berbeda dari yang lain adalah kualitasnya yang tidak pernah berubah dari awal toko ini ada, saya masih mempertahankan apapun yang ibu saya ajarkan dari awal berdirinya toko ini,” ujar Tutik.
Tutik mengungkapkan bahwa perjalanan usahanya dimulai dari kegemarannya memasak bersama sang ibu untuk acara hajatan sebelum akhirnya berkembang menjadi usaha yang menerima pesanan secara rutin. Ia tetap mempertahankan proses produksi secara manual tanpa bantuan mesin modern, meskipun hal itu membuat proses menjadi lebih lambat jika bahan baku atau gas untuk produksi habis.
Produk kue tersebut dipasarkan secara terbatas melalui pemesanan untuk acara-acara seperti hajatan, pernikahan, dan selamatan, dengan sebagian besar pelanggannya berasal dari daerah Pelang yang terletak di luar Desa Puter. “Untuk harga kue basah ini kan Rp1.500-an, tapi kalau ada yang menawar jadi Rp1.300 saya masih tetap buatkan meskipun ukurannya jadi sedikit lebih kecil,” jelasnya.
Karena pemasarannya masih terbatas, masyarakat, terutama pelanggan baru, kerap kesulitan menemukan lokasi usaha Bu Tutik. Melalui program KKN, mahasiswa membantu mendaftarkan lokasi usaha ke Google Maps agar lebih mudah diakses dan dikenal masyarakat.
Selain usaha kuliner, Desa Puter juga memiliki usaha kerajinan rebana yang dijalankan Pak Agus dengan fokus pada pembuatan alat hadroh jenis albanjari yang digunakan untuk festival, lomba, serta acara habsyi. “Keistimewaannya itu terletak pada penggunaan bahan yang bervariasi sesuai dengan keinginan pembeli, mulai dari kayu mahoni, nangka, mangga, hingga jati. Untuk bagian kulitnya, kami secara khusus menggunakan kulit kambing betina karena lebih tipis,” tutur Agus.

Usaha ini merupakan keahlian yang diwariskan turun-temurun oleh Pak Agus dari wilayah Bungah, Gresik, sebelum berkembang pesat di Lamongan. "Saya membawanya ke Lamongan, dan ternyata berkembang karena di Lamongan ini banyak acara pengajian gitu dan selalu ramai," ungkapnya.
Pemasaran produk rebana dilakukan secara online melalui Facebook, Instagram, TikTok, dan Shopee, dengan sebagian besar pelanggan berasal dari kalangan pondok pesantren, remaja masjid, TPQ, serta siswa sekolah dasar. Agus mengungkapkan bahwa tantangan dalam produksi seringkali muncul pada musim hujan, ketika proses pengeringan kayu dan kulit menjadi lebih sulit dan harus dilakukan secara manual.
Kedua UMKM tersebut menunjukkan bagaimana usaha yang berbasis keahlian keluarga dapat bertahan dan berkembang menjadi bagian dari identitas ekonomi Desa Puter. Melalui konsistensi dalam kualitas produk serta penyesuaian strategi pemasaran, kedua usaha ini diharapkan dapat terus maju dan memotivasi pelaku UMKM lainnya di sekitar wilayah tersebut.
Penulis: Alfiyah Wintsadin Fashla
ACC Operator
#LamonganMegilan #KembangbahuHarum
#PotensiDesaPuter #UMKMDesaPuter #KKNLamongan #KulinerLamongan #RebanaLamongan





